Proses Pembenihan Ikan Lele yang Benar

Halo sahabat Sangkuti! Kembali lagi pada artikel Sangkuti Farm yang menyajikan informasi unik dan bermanfaat seputar budidaya ikan lele. Apa kabar budidaya ikan lele akang? Semoga terus berjalan lancar dan panen yang berkah ya. Kesempatan kali ini Sangkuti Farm akan membahas bagaimana proses benih lele diproduksi. Benih ikan lele yang akan digunakan pada segmentasi pembesaran dihasilkan melalui proses pada segmentasi pembenihan yang benar agar benih memiliki kualitas standar dan baik. Proses pembenihan ikan lele melalui langkah-langkah penting untuk dikuasai agar benih yang dihasilkan sehat, tidak cacat, serta memiliki pertumbuhan yang optimal. Kegiatan produksi benih ikan lele didukung beberapa rangkaian teknis yang terangkai menjadi suatu proses sebagai berikut.

  1. Pemeliharaan Induk

Benih yang berkualitas berasal dari induk yang berkualitas pula. Ikan lele yang disebut-sebut sebagai ikan yang kuat terhadap perubahan kualitas air dan mampu hidup di perairan yang buruk, tidak menjamin dapat memproduksi benih yang sehat dengan perawatan yang sembarangan. Tidak hanya larva, benih, dan segmentasi pembesaran saja yang memiliki teknis pemeliharaan khusus, pemeliharaan induk ikan lele pun demikian. Ukuran tubuh induk ikan yang lebih besar dari ikan lele pada umumnya memang dapat menjadi tolok ukur ketahanan imunitas ikan. Namun, perlu diingat bahwa induk ikan lele membutuhkan lingkungan dan pemberian pakan yang optimal. Lingkungan dan pemberian pakan yang tepat mencegah stress pada induk sehingga proses pematangan gonad sampai dengan produksi telur berjalan memuaskan. 

Induk ikan lele berasal dari segmentasi pembesaran yang ukurannya melampaui permintaan pasar (BS; Big Size) dan sudah melalui tahap seleksi kualitas untuk dijadikan calon induk. Ikan lele disebut memasuki tahap pemeliharaan induk apabila ukuran ikan melampaui 700 g. Calon induk ikan dipelihara sampai berumur 12 bulan dan memenuhi seluruh syarat baik induk ikan lele. Sistem budidaya induk ikan lele dapat memanfaatkan beragam jenis wadah yaitu kolam tanah, kolam beton, dan kolam terpal. Ada pula sistem budidaya air mengalir seperti keramba yang dapat dijadikan wadah pemeliharaan induk ikan lele. Tingkat kepadatan diatur sebagaimana mestinya agar carrying capacity yang berhubungan dengan daya dukung lingkungan dapat menunjang pertumbuhan ikan lele, kepadatan induk yang dianjurkan yaitu 5 ekor/m2. Pakan utama yang diberikan adalah pellet yang memiliki ukuran diameter 3-5 mm dengan kandungan protein minimal 35 %. Metode pemberian pakan dilakukan secara ad satiation atau restricted  dengan feeding rate 1-2% melalui frekuensi pemberian 2 kali sehari (pagi dan sore hari). Selain pakan pellet, pakan alami seperti keong mas, kijing, bekicot, dan ikan rucah dapat diberikan sebagai pakan tambahan dengan intensitas 3-5 hari sekali. Manajemen kualitas air tidak luput dari perhatian dengan melakukan pergantian air apabila diperlukan seperti saat air sudah terlihat kotor dan berbau tidak sedap.

Proses Pembenihan Ikan Lele
Proses Pembenihan Ikan Lele

  1. Seleksi Induk

Seleksi induk dilakukan ketika induk ikan lele secara umum dalam satu populasi sudah memenuhi syarat induk lele. Induk ikan lele jantan dan betina memiliki ketentuan seleksi masing-masing untuk kelayakan induk yang siap pijah. Induk betina yang termasuk kedalam kriteria seleksi yaitu induk yang membuncit serta bertekstur lunak pada bagian perutnya, warna kemerahan pada area genital (alat kelamin)-nya, panjang tubuh minimal 50 cm, bobot minimal 1 kg, umur minimal 12 bulan, dan ukuran diameter telur 1,2-1,5 mm yang diamati melalui proses kateterisasi. Induk jantan memiliki kriteria seleksi yang tidak jauh berbeda dengan induk betina yaitu panjang tubuh minimal 50 cm, bobot minimal 1 kg, umur minimal 12 bulan, serta terdapat papila yang memerah dan memanjang di dekat pangkal sirip perut. Hal mendasar lainnya yang perlu diperhatikan ketika menyeleksi induk ikan lele yaitu induk ikan harus sehat (tidak sedang terserang penyakit), induk bukan berasal dari pemijahan inbreeding, anggota tubuh lengkap, serta tidak cacat. Proses penyeleksian induk disarankan pada pagi hari ketika suhu perairan tidak terlalu tinggi.

  1. Pemijahan

Induk jantan dan betina yang sudah terseleksi memiliki tiga metode opsi pemijahan yaitu pemijahan alami, semi alami, dan buatan. Dalam hal praktisnya pemijahan buatan belum banyak dikuasai dan dipraktekkan para pembudidaya. Pemijahan alami dan semi alami menjadi opsi yang paling sering diterapkan karena kemudahan teknis yang tidak membutuhkan keahlian khusus. Metode pemijahan alami dan semi alami dibedakan dengan adanya peran hormon tambahan yang dilibatkan pada pemijahan semi alami. Induksi hormon diberikan melalui penyuntikan untuk merangsang induk ikan lele melangsungkan pemijahan. Peran hormon dalam hal ini juga berdampak baik pada produksi telur, daya tetas telur, dan kelangsungan hidup larva.

Proses Pembenihan Ikan Lele
Proses Pembenihan Ikan Lele

Proses pemijahan induk diaplikasikan pada kolam beton maupun kolam terpal yang sudah dilengkapi dengan kakaban. Kakaban merupakan rangkaian ijuk yang dihimpun dan ditata rapi pada suatu struktur batangan kayu atau bambu. Kakaban berfungsi sebagai substrat telur hasil proses pemijahan dan perangsang ikan untuk memijah. Kakaban diletakan pada dasar yang menutupi 50% permukaan dasar kolam. Hormon yang digunakan pada pemijahan semi alami yaitu ovaprim. Ovaprim disuntikan pada induk sebelum induk jantan dan betina disatukan dalam satu wadah pemijahan, dosis ovaprim yang diinduksi yaitu 0,2-0,3 ml/kg bobot induk. Rancangan wadah pemijahan yang ideal untuk pemijahan yaitu berukuran 2 x 2 m dengan ketinggian air 30-40 cm. Wadah pemijahan dianjurkan terhindar dari sinar matahari langsung dan tidak diberi penerangan pada malam hari. Induk jantan dan betina masing-masing berjumlah 2 ekor dalam satu wadah pemijahan. Proses pemijahan berlangsung beberapa jam pada malam sampai dengan dini hari. Pemijahan dapat dikatakan berhasil ketika banyak telur yang menempel pada substrat kakaban. Telur yang terbuahi berwarna bening sedangkan telur yang tidak terbuahi berwarna putih. 

  1. Penetasan telur

Telur yang dihasilkan setelah melalui proses pemijahan dipindahkan ke wadah penetasan yang sudah disiapkan khusus sebelumnya. Pemindahan dilakukan dengan mengambil seluruh rangkaian kakaban secara perlahan, kemudian meletakkan kakaban tersebut dengan posisi terbalik di wadah penetasan. Peletakkan kakaban yang terbalik bertujuan agar larva yang baru menetas dapat dengan mudah keluar dari telur dan berenang ke kolom perairan. Wadah penetasan dilengkapi dengan aerasi untuk mencukupi kebutuhan oksigen larva ikan lele. Tidak hanya kakaban yang dipindahkan, induk jantan dan betina pun dialokasikan ke wadah karantina. Pemindahan induk ke wadah karantina bertujuan untuk mengembalikkan kondisi induk yang stress dan lemah pasca pemijahan. Selama proses karantina induk ikan lele dipuasakan sampai waktu tertentu. Telur pada kakaban akan menetas dalam waktu <24 jam. Apabila seluruh telur sudah menetas, kakaban dapat diangkat dari wadah penetasan. Larva lele dilengkapi kuning telur sebagai makanan sementara selama 3 hari. Mulai hari ke-4 larva ikan dapat diberikan pakan alami berupa artemia, cacing sutera, atau kutu air. Pemberian pakan dilakukan tidak secara berlebihan dengan memperhatikan respon makan larva. Pakan alami cacing sutera diberikan kurang lebih 14 hari, setelah itu ikan lele sudah dapat diberi pakan pelet berdiameter kecil (jenis PF1000). Pergantian air perlu dilakukan apabila kualitas air menunjukan ciri-ciri penurunan. Pergantian air tidak dianjurkan secara total, melainkan cukup 30-40% saja.

Proses Pembenihan Ikan Lele
Proses Pembenihan Ikan Lele

  1. Penyortiran

Larva ikan lele tumbuh menjadi benih ikan lele dalam kurun waktu 2-3 minggu saja. Benih ikan lele memiliki pertumbuhan yang beragam, oleh sebab itu diperlukan penyortiran pada kualitas dan ukuran benih lele agar kegiatan produksi benih beroperasi optimal. Sortir atau grading benih ikan lele kerap dilakukan 1-3 minggu menyesuaikan kondisi di lapangan. Kegiatan sortir dibantu dengan alat berupa ember yang sudah di lubang-lubangi, benih ikan lele yang berukuran besar tidak dapat lolos melalui lubang tersebut begitu juga sebaliknya pada benih berukuran kecil. Benih ikan lele sudah dapat didistribusikan ke segmentasi pembesaran apabila benih mencapai ukuran minimal 7-8 cm. Ukuran 7-8 cm diperoleh pada masa pemeliharaan 54-60 hari.

Sekian artikel untuk kesempatan kali ini. Semoga artikel ini bermanfaat dan terus menginspirasi bagi sahabat Sangkuti semuanya. Jangan lupa like dan share artikel ini dan artikel lainnya dari Sangkuti Farm. Terimakasih, sampai jumpa, happy farming, dan salam sukses akuakultur!

Baca juga: Ternak Lele Air Bersih, Emang Bisa?

Nilai Kualitas Konten

About Aghis

CEK JUGA ARTIKEL INI :

Fitoplankton Makanan Kutu Air

Halo sahabat sangkuti mimin disini mau berbagi pengetahuan baru ternyata fitoplankton makanan kutu air yuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!
Chat Kami
1
Terima kasih 😀🙏🏻

Silahkan diskusikan kepada kami tentang budidaya ikan, kolam terpal dan perlengkapan perikanan budidaya lainnya. Kami siap membantu anda 😊😊

Oh iya, Kami hari ini sedang ada promo pelatihan budidaya online hanya 100ribuan berisi 60 video tutorial. 👍