Tips Memilih Lokasi Yang Cocok Untuk Budidaya Lele

Lokasi Yang Cocok Untuk Budidaya Lele

SANGKUTIFARM.COM Dalam artikel ini kami akan membahas Tips Memilih Lokasi Yang Cocok Untuk Budidaya Lele. Pada dasarnya, budidaya lele bisa dilakukan di mana saja, baik dataran rendah maupun tinggi. Namun, untuk keberhasilannya, ada beberapa persyaratan yang mempengaruhi seperti uraian berikut.

 

Lokasi Yang Cocok Untuk Budidaya Lele

Kebutuhan lahan

Hal yang pertama dalammencari Lokasi Yang Cocok Untuk Budidaya Lele adalah kebutuhan lahan. Lokasi budidaya lele bisa di perkarangan, kebun, sawah, tanah, tambak, rawa, danau, kubangan, lahan tidur, atau bangunan yang tidak terpakai seperti gudang atau ruangan kosong. Luasnya bisa disesuaikan dengan lahan yang ada dan skala produksi yang diinginkan. Bila tidak ada lahan luas, lahan sempit pun bisa. idealnya, luas lahan yang dibutuhkan antara 50-200 m2. intinya, semakin luas lahan, kolam yang dibuat bisa lebih besar dan lebih banyak.

Ketinggian lahan

Selanjutnya dalam mencari Lokasi Yang Cocok Untuk Budidaya Lele adalah lhan yang memiliki ketinggin yang sesuai. Untuk hasil optimal, sebaiknya budilele dilakukan pada ketinggian 1-700m dpl dengan curah hujan sedang. Loka di atas 700 m dpl kurang baik untuk pertumbuhan lele karena udara yang terlalu dingin menyebabkan metabolisr ikan tidak maksimal. Otomatis, waktu panen menjadi mundur dan pakan menjadi boros. Selain itu, kemampuan telur menetas juga tidak maksimal dan lebih lama, bahkan bisa mundur sampai 3-8 jam. Walaupun lele bisa hidup pada suhu 200 C, pertumbuhannya tidak akan optimal karena standar suhu pertumbuhan optimal lele ada pada 25-28 C. Sementara itu, untuk pertumbuhan larva diperlukan kisaran suhu 26-30C dan untuk pemijahan 24-28C.

Jenis tanah yang cocok

Bila budidaya lele mengunakan kolam tanah, sebaiknya perhatikan jenis tanah di lokasi bersangkutan karena tidak semua tanah bisa dijadikan kolam. Ada beberapa bersyaratan tanah yang bisa dibuat kolam. Tanah tersebut tidak mudah rembes, longsor, ataupun pecah karena nantinya dapat mengganggu proses budidaya. Jenis tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan lele adalah tanah liat atau lempung, berlumpur, subur, dan tidak poros. Contohnya tanah sawah atau rawa. Kemiringan / elevasi tanah dari permukaan sumber air dengan kolam adalah 5-10%.

 

Dekat dengan sumber air

Lokasi Yang Cocok Untuk Budidaya Lele

hal yang penting mencari Lokasi Yang Cocok Untuk Budidaya Lele adalah dekat dengan sumber air. Air merupakan bagian paling penting dari semua budidaya perikanan, termasuk lele. Kualitas dan ketersediaanya harus selalu ada serta tidak kenal musim sehingga tidak mengganggu proses budidaya. Jadi, lokasi budidaya harus dekat dengan sumber air dan tidak banjir, serta tidak tercemar limbah rumah tangga ataupun industri. Air harus selalu tersedia dalam jumlah yang cukup sesuai kebutuhan. Selain itu, ada faktor lain yang mempengaruhi air, yaitu pH (derajat keasaman air) antara 6,5-8; kesadahan (derajat butiran kasar) 50-100 ppm; turbidity (kekeruhan) bukan lumpur antara 30-60 cm; kandungan oksigen minimal 0,3 ppm; CO2 kurang dari 12,8 mg/liter; dan amonium 147,29-15756 mg/liter.

Cukup sinar matahari

Hal yang tidak kalah penting dalam mencari Lokasi Yang Cocok Untuk Budidaya Lele adalah daerah yang cukup sinar matahari. Pakan alami sangat dibutuhkan selama masa pembenihan ataupun pembesaran. Untuk menumbuhkan pakan alami seperti plankton dan lainnya, dibutuhkan sinar matahari yang cukup. Selain itu, sinar matahari yang hangat sangat membantu proses metabolisme lele sehingga lebih sehat dan cepat besar. Agar airnya tidak terlalu panas, kolam bisa diberi peneduh, tetapi jangan ditanami pohon yang daunnya mudah rontok karena dapat mengotori kolam dan menyebabkan air rusak. Namun, lain halnya jika budidaya dilakukan dengan sistem indoor atau di dalam ruangan. Suhu di dalamnya akan selalu stabil karena setiap akuarium biasanya dipasang water heater. ikan tidak akan terkena sinar matahari secara langsung.

Aman dari gangguan

Budi daya lele harus aman dari berbagai gangguan, baik manusia ataupun hewan pengganggu. Gangguan bisa menimbulkan berbagai masalah yang ujung-ujungnya menimbulkan kerugian, terutama tindakan pencurian yang menyebabkan ketidaknyaman pelaku usaha. Faktor keamanan ini harus diperhatikan dengan seksama bila tidak ingin usaha lele Anda menjadi rugi.

Kemudahan mendapatkan saprokan

Dalam berbisnis lele, akses mendapatkan saprokan (sarana produksi perikanan) harus diperhatikan. Kesulitan akses tersebut dapat mengganggu kelancaran usaha. Oleh karena itu, segala kebutuhan budidaya yang penting seperti pakan, obat-obatan, dan sarana penunjang lainnya tersedia dan mudah didapat di sekitar lokasi. Tidak tersedianya saprokan dapat mengganggu kelancaran proses budi daya. Selain itu, di lokasi tersebut sebaiknya tersedia berbagai sumber alam yang memungkinkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya.

Dekat dengan pemasaran

Lokasi Yang Cocok Untuk Budidaya Lele

Biasanya, pemasaran kurang menjadi pertimbangan seorang pembudidaya lele. Padahal, pemasaran merupakan akhir dari budidaya. Bila lokasi usaha jauh dari pusat pemasaran, hasil panen mau dijual ke mana? Selayaknya, pemasaran harus dipikirkan dengan matang sebelum memulai usaha. Jadi, sebaiknya lokasi budidaya dekat dengan pasar atau dapat dijangkau sehingga memudahkan pemasarannya.

Fasilitas umum dan komunikasi tersedia

Sebuah usaha akan berjalan lancar dan mudah dilakukan bila tersedia sarana, terutama jalur distribusi keluar-masuk lokasi budidaya, begitu pun dengan transportasi umum. Selai itu, harus tersedia pula sarana komunikasi untuk melakukan hubungan dengan berbagai pihak terkait, misalnya telepon. Fasilitas umun yang tidak memadai merupakan masalah serius yang dapat menghambat budidaya lele.

Aspek teknis dan tenaga kerja mendukung

Usaha dengan hasil maksimal tidak dapat terwujud jika bukan dilakukan oleh ahlinya. Bila ada masalah, tidak ada yang bisa menanganinya secara profesional sehingga usaha yang dilakukan terbengkalai. Tanpa dukungan teknis memadai, budidaya lele tidak akan berhasil. Oleh karena itu, peternak harus menguasai tekniknya dari berbagai aspek, mulai dari aspek biologis, teknis pembenihan, pendederan, pembesaran, penanggulangan hama dan penyakit, penyediaan pakan, serta panen dan pascapanen. Diperlukan pula tenaga kerja yang jeli melihat dan memanfaatkan peluang pasar yang ada. Tenaga ahli yang dimaksud bisa peternak itu sendiri yang telah banyak membaca atau mengikuti berbagai pelatihan lele. Bisa juga orang lain yang memang sudah biasa berkecimpung di dunia lele.

Sebagai gambaran, untuk memproduksi benih lele di lahan 1.000 m, dibutuhkan 3 orang tenaga kerja. Namun, untuk melakukan pembesaran lele di lahan 1.000 m2 cukup dibutuhkan 2 orang pekerja. Jumlah pekerja pada pembesaran lele lebih sedikit karena kegiatannya tidak serumit pembenihan.

Budidaya lele di keramba

Budidaya lele juga bisa dilakukan di keramba jaring apung. Lokasinya bisa di sungai, waduk, saluran irigasi, atau danau. Untuk lokasi di sungai atau saluran irigasi, yang penting lahannya tidak curam, dekat rumah sehingga mudah dikontrol. Lebar sungai atau saluran irigasi antara 3-5 m dengan kedalaman 30-60 cm. Sungai atau saluran irigasi yang digunakan tidak terlalu banyak batu sehingga keramba mudah dipasang. Kelebihan keramba adalah kemudahan dalam panen dan sortir. Kelemahannya, wadah ini tidak bisa terlalu padat penebarannya.

Lokasi Budi Daya yang Tidak Sesuai

Memang, mendapatkan lokasi budidaya yang ideal membuat segala pekerjaan menjadi mudah. Namun, tidak semua lokasi cocok untuk budi daya lele. Terkadang ada saja kekurangannya, mulai dari air, suhu, pH, kandungan oksigen, atau lainnya. Kelemahan tersebut harus disiasati. Nah, bagaimana bila lokasi yang dimiliki tidak memenuhi kriteria ideal tersebut? Apa kiat dan langkah yang harus diambil agar tetap bisa beternak lele dengan produksi optimal walaupun lokasi yang dimiliki kurang ideal?

Lahan berupa dataran rendah (panas)

Dataran rendah adalah hamparan lahan dengan ketinggian 0-200 m dpl. Suhunya pun bisa dikatakan panas, yaitu antara 28-320 C. Lahan seperti ini biasanya ditemukan dekat pantai, tetapi ada juga yang menjorok hingga pedalaman. Dataran rendah biasanya memiliki tanah yang subur sehingga cocok untuk budi daya lele. Namun, faktor suhu yang panas harus disiasati dengan cara membuat kolam yang dalam dengan kedalaman 1-2 m sehingga bisa meredam panas. Selain itu, bisa menggunakan peneduh berupa paranet atau menutup separuh kolam dengan terpal. Solusi lainnya adalah menggunakan tanaman air seperti kiambang yang bisa menutupi permukaan kolam sekitar 30-40% dari total luas kolam sehingga sinar matahari tetap masuk. Eceng gondok dan kangkung air tidak baik digunakan untuk peneduh. Selain banyak hama, tanaman ini juga mudah busuk yang menyebabkan air kotor.

Lahan berupa dataran tinggi (dingin)

Dataran tinggi adalah hamparan lahan dengan ketinggian di atas 700 m dpl.Wilayah ini cocok untuk kegiatan perkebunan seperti teh, cengkih, kopi, sayuran, buah-buahan, dan bunga. Namun, lokasi ini kurang tepat untuk budidaya lele karena suhu airnya terlalu dingin. Kadar oksigennya pun rendah sehingga menghambat pertumbuhan lele karena metabolismenya kurang berfungsi dengan baik. Jika ingin melakukan budidaya lele di daerah ini, harus disiasati dengan bantuan teknologi sederhana, seperti pompa resirkulasi, aerator (gelembung udara), dan heater (pemanas air), atau penerapan sistem indoor yang ruangannya diberi penghangat (heater).Walaupun penerapannya membutuhkan modal besar, tetapi hasil produksi yang dicapai tidak akan optimal. Oleh karena itu, bila tidak terpaksa. sebaiknya hindari budidaya lele di dataran tinggi.

Lokasi dengan curah hujan tinggi (pH asam)

Dalam mencari Lokasi Yang Cocok Untuk Budidaya Lele perhatian lokasi dengan curah hujan tinggi. Budidaya lele di lokasi dengan curah hujan tinggi seperti Bogor dan Cianjur biasanya banyak kendalakarena dapat menyebabkan air menjadi dingin, asam, mineralnya tidak seimbang, dan kadar oksigennya turun drastis. Kondisi seperti ini menyebabkan insang dan ginjal ikan mengalami radang dan infeksi berat. Lele tidak mampu menyesuaikan diri dalam waktu singkat sehingga stres berat seperti menggantung, berlendir dan berbusa, lalu mati. Oleh karena itu, setiap habis turun hujan, banyak lele yang mati, khususnya benih.

Perubahan suhu, air yang asam, turunnya kadar oksigen, serta lendir/ busa yang dikeluarkan ikan akibat hujan menyebabkan jamur, bakteri, dan berbagai bibit penyakit lainnya berkembang pesat. Akibatnya, kualitas air menurun yang menyebabkan ikan tidak mampu bertahan hidup. Untuk mengantisipasi, bisa’dilakukan dengan menebarkan beberapa genggam garam kasar (non-iodium) ke dalam kolam setiap selesai turun hujan agar air kembali normal dan mencegah bibit penyakit berkembang. Jumlah garam yang ditebar disesuaikan dengan volume air kolam. Untuk kolam. seluas 10 m2, cukup menebar garam kasar sebanyak 2 genggam.

Sementara itu, untuk mengatasi kadar asam yang tinggi, bisa diberi soda kue berbentuk bubuk atau serbuk kapur gampung. Dosisnya sangat tergantung tingginya curah hujan dan volume air dalam kolam. Cara penggunaannya sebagai berikut.

  • Siapkan wadah berupa mangkok
  • Isi air agak penuh
  • Tambahkan sode kue sekitar 1-2 sendok makan
  • Aduk hingga rata sampai berwarna putih
  • Tebar larutan soda kue ke dalam kolamsecara merata
  • Larutan tersebut digunakan kolam seluas 1m2

Lahan gambut (asam)

Hindari memilih lahan gambut untuk Lokasi Yang Cocok Untuk Budidaya Lele. Lahan gambut kurang tepat untuk dijadikan lokasi budidaya ikan karena sifatnya asam. Walaupun ada beberapa jenis ikan bisa hidup dengan baik di daerah tersebut seperti gabus, sepat, tapah, betok, dan patin. Namun, bila ingin mengaplikasikannya di lahan gambut, bisa disiasati dengan menetralisir kandungan pH-nya. Bisa dengan kapur pertanian atau soda kue. Wadah yang digunakan sebaiknya berupa kolam terpal atau beton sehingga pH-nya bisa dinetralisir. Bila dilakukan di kolam tanah,jumlah bahan penetralisir pH air yang dibutuhkan harus banyak. Selain itu, pH-nya akan cepat berubah karena pengaruh asam tanah gambut yang lebih dominan. Berikut cara menetralisir air.

  • Masukkan air dari sumber air ke kolam penampungan sementara.
  • Tambahkan kapur pertanian sebanyak 30-50 g/m3 air.
  • Endapkan selama 3-5 hari agar pH stabil.
  • Pindahkan air dari kolam penampungan sementara ke kolam pemeliharaan.
  • Kolam siap digunakan untuk budi daya.

Cara lain yang bisa dilakukan untuk menetralisir pH air adalah menggunakan soda kue. Caranya sama dengan pemberian kapur pertanian. Dosisnya 1/2 sendok teh/m3 yang dilarutkan dalam air, lalu diendapkan selama 2-4 hari. Setelah itu, air bisa digunakan untuk budi daya lele.

Lokasi dengan pH tinggi

Dalam mencari Lokasi Yang Cocok Untuk Budidaya Lele hindari lokasi dengan pH tinggi. Budidaya lele di lahan dengan pH tinggi biasanya memiliki kandungan kapur yang kurang baik, terutama untuk pembenihan. Jadi, pH harus diturunkan atau dinormalkan dengan zat asam seperti tawas, cuka, jeruk nipis Caranya, bahan-bahan penetral tersebut dilarutkan dalam air, lalu diendapkan sekitar 3-4 hari. Selanjutnya, air bisa digunakan untuk budi daya. Adapun komposisi penggunaan zat asam tersebut disesuaikan dengan kadar pH dan jumlah air yang akan dinormalkan. Untuk mengetahui derajat keasaman atau basa air yang telah dinormalkan bisa menggunakan kertas lakmus/kertas pH atau menggunakan pH meter.

Sekian artikel mengenai Tips Memilih Lokasi Yang Cocok Untuk Budidaya Lele. Share artikel ini jikan bermanfaat dan jika ada pertanyaan silahkan tinggalkan komentar di kolom komentar di bawah artikel ini.

 

Happy farming

Facebook Comments
BANNER FREE MEMBER

CEK JUGA ARTIKEL INI :

Perkembangan Budidaya Ikan Lele di Indonesia

Perkembangan Budidaya Ikan Lele di Indonesia

Perkembangan Budidaya Ikan Lele di Indonesia Perkembangan Budidaya Ikan Lele di Indonesia Permintaan lele konsumsi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!