Keunggulan Lele Mandalika No ratings yet.

Kali ini kami ingin membahas Keunggulan Lele Mandalika. Perkembangan dunia perikanan Indonesia sudah mengalami kemajuan yang pesat. Seiring berjalannya waktu muncul variasi-variasi ikan terkini yang mempunyai keunggulan tersendiri, salah satunya adalah ikan air tawar lele. Ikan lele adalah komoditas ekonomis penting di propinsi Nusa Tenggara Barat. Selama ini kebutuhan bibit untuk kebutuhan budidaya dikerjakan dengan mendatangkan bibit lele dari pusat-pusat bibit ikan di pulau Jawa dengan bermacam variasi dan tingkat kualitas. Di samping itu, jarak tempuh yang cukup memakan waktu lama dengan menerapkan transportasi darat juga mengurangi kelayakan kualitas dari benih untuk budidaya.


Keunggulan lele mandalika

Dalam rangka menjembatani persoalan yang selama ini terjadi, maka sejak tahun 2009, kegiatan karantina ikan lele diawali dengan mengoleksi sejumlah varietas unggul ikan lele di BBI Batukumbung, Lingsar, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kemudian dilanjutkan dengan memanfaatkan varietas ikan lele Sangkuriang, Masamo dan Phyton untuk menjadikan benih lele hibrida dari provinsi NTB yang unggul dalam kecepatan tumbuh bila dibandingkan dengan benih-benih lele yang beredar di masyarakat. Benih hibrida ini diberi nama lele Mandalika. Nama mandalika sendiri adalah kepanjangan dari “Mina Andalan Nasional Damai dengan Lingkungan karya dan di suKai Anak bangsa”. Ikan ini adalah hasil hibridisasi seleksi unggul dari strain lele sangkuriang dari Jawa Barat dan lele masamo dari Jawa Timur yang dilaksanakan oleh Instalasi Balai Benih Ikan Batu Kumbung-Balai Pengembangan Budidaya Ikan Air Tawar Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB.

Banyak pembudidaya beralih membudidayakan lele mandalika karena merasa lebih menguntungkan. Bila diperhatikan, lele mandalika memiliki keunggulan tersendiri dibanding lele sangkuriang maupun jenis ikan lele lainnya. Pasalnya, pertumbuhan ikan lele mandalika lebih tinggi 22,78% dibandingkan lele sangkuriang. Ikan lele sangkuriang dapat dipanen saat berumur 60 hingga 85 hari setelah tebar, sedangkan lele mandalika dipanen saat umur 60 hingga 70 hari.

Ikan lele ini cocok dan adaptif dibudidayakan di daerah dataran rendah maupun dataran tinggi, mampu memberikan peningkatan produksi sebesar 33,55% dibandingkan dengan lele yang diterapkan masyarakat lokal setempat serta memberikan peningkatan keuntungan seandainya dibandingkan dengan mengaplikasikan benih lokal maupun benih lele sangkuriang dan lele masamo.

Menurut Kepala BBI Batu Kumbung, Sabara Putra, S.Pi, M.Si, lele mandalika bahkan tahan penyakit aeromonas. Convertion Ratio (FCR) atau konversi pakannya sendiri sebesar 0,7—0,9 %. Artinya, untuk menjadikan 1 kg daging, dia hanya perlu 0,7—0,9 kg pakan. . Tingkat kelangsungan hidup alias survival rate mandalika mencapai 90%. Tingkat kematian mandalika bahkan cukup rendah, yaitu sekitar 10%, sedangkan lele sangkuriang ada di kisaran 30%.

Sekian artikel mengenai Keunggulan Lele Mandalika

Smoga bermanfaat 🙂

Facebook Comments
BANNER FREE MEMBER

Nilai Kualitas Konten

CEK JUGA ARTIKEL INI :

Penyakit Virus Pada Ikan Lele

Penyakit Virus Pada Ikan Lele

Channel Catfish Virus Disease (CCVD) merupakan penyakit ikan lele yang disebabkan oleh virus herpes. Penyakit …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!