Cara Agar Larva Lele Cepat Besar, Nomor 3 Penting!

Halo Sahabat Sangkuti, kembali lagi pada artikel Sangkuti Farm yang inspiratif dan pastinya informatif. Bagaimana kabar budidaya lele akang? Semoga lancar dan dalam keadaan sehat selalu ya. Pada kesempatan kali ini kami akan membongkar cara agar larva lele cepat besar. Artikel kali ini sangat menarik dengan informasi yang mencakup overlap dari segmentasi pembenihan dan pendederan yaitu pemeliharaan larva ikan lele. Serupa dengan pemeliharaan benih, pemeliharaan larva lele membutuhkan ketelatenan dan kehati-kehatian yang cukup tinggi. Merawat larva yang baru saja menetas dapat dianalogikan seperti merawat bayi manusia yang baru saja dilahirkan. Cara penanganan yang kurang tepat dapat berakibat fatal pada pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva. Tidak sedikit kendala yang dihadapi di lapangan yaitu larva lele yang memiliki laju pertumbuhan lambat serta presentase mortalitas yang tinggi. Problema tersebut bersifat merugikan pembudidaya serta menghambat siklus produksi untuk segmentasi berikutnya. Identifikasi secara mendalam mengenai hal ini wajib diketahui dan diaplikasikan oleh para pembudidaya agar kinerja usaha budidaya lele berjalan baik.

Sebelum menjabarkan hal-hal penting apa saja yang menjadi cara agar larva tumbuh dengan sehat, perlu diketahui terlebih dahulu persyaratan larva ikan lele yang sehat berdasarkan kriteria kualitatif dan kuantitaif. Kriteria kualitatif larva ikan lele meliputi asal, warna, dan gerakan/perilaku. Larva ikan lele yang memenuhi kriteria asal yaitu larva yang diproduksi oleh induk jantan dan betina yang bukan berasal dari satu keturunan. Pemijahan antar induk lele yang berasal dari keturunan yang sama (inbreeding) dapat menyebabkan abnormalitas pada larva ikan lele. Abnormalitas pada larva dapat dilihat melalui kejanggalan pada morfologi tubuh seperti tubuh yang bengkok, selain itu larva ini lebih berpotensi terserang penyakit dan produktivitas yang rendah. Warna larva yang memenuhi ketentuan kriteria adalah larva yang berwarna coklat kehitaman. Warna akan mengalami transformasi seiring dengan pertumbuhan larva menjadi benih. Larva yang tumbuh menjadi benih memiliki warna kehitaman pada bagian punggung dan warna putih pada bagian perut. Kriteria kualitatif terakhir yaitu gerakan atau perilaku larva yang berenang aktif dan tidak membentuk suatu gerombolan.

Syarat larva selanjutnya yaitu berdasarkan kriteria kuantitatif, kriteria kuantitatif pada larva ikan lele diukur berdasarkan umur, panjang total, bobot, dan keseragaman ukuran. Ikan lele disebut pada stadia larva sejak hari pertama penetasan sampai memasuki usia 3 hari. Usia pada hari ke-4 sampai dengan hari ke-20 ikan dapat disebut sebagai benih ikan lele pada stadia pendederan satu. Larva yang sehat dan memenuhi kriteria kuantitatif panjang total ialah ikan yang memiliki panjang total 0,5-0,7 cm. Ikan yang memiliki panjang dibawah nilai tersebut dapat dicurigai memiliki ke abnormalan, serta ikan yang panjangnya melebihi 0,7 cm dapat digolongkan sebagai benih yaitu larva yang sudah tumbuh. Bobot larva yang ideal umumnya yaitu 0,001 gram. Kriteria kuantitatif lainnya yaitu larva memiliki keseragaman ukuran minimal 90% dalam populasinya. Setelah mengetahui persyaratan larva ikan lele yang produktif, berikut merupakan empat hal yang dapat sahabat Sangkuti pahami agar larva ikan lele cepat besar.

Cara Agar Larva Lele Cepat Besar

  1. Lokasi dan wadah pemeliharaan

Seluruh segmentasi budidaya ikan lele wajib mempertimbangkan lokasi dan wadah pemeliharaan yang tepat untuk usaha yang berkelanjutan. Penentuan lokasi dan wadah pemeliharaan merupakan pra-produksi yaitu suatu rangkaian proses dari beberapa komponen sebelum memulai kegiatan produksi benih lele. Pra-produksi terdiri dari penentuan lokasi, sumber air, serta wadah dan peralatan pemeliharaan. Demi menciptakan larva ikan lele yang sehat dan pertumbuhan yang signifikan, sumber air budidaya menjadi komponen input esensial. Sumber air yang berkualitas diperoleh berdasarkan penentuan lokasi yang tepat dan terjangkau. Lokasi pemeliharaan larva ikan lele dapat menjangkau sumber air yang tidak tercemar, memiliki pH yang stabil, saturasi oksigen yang cukup, serta ketersediaan yang berlimpah sepanjang tahun.

Wadah untuk pemeliharaan larva yang dapat diaplikasikan berupa akuarium, bak fiber, kolam beton, atau kolam terpal yang dilengkapi dengan atap. Wadah dengan ukuran yang relatif kecil memudahkan dalam hal pengendalian kualitas air serta pengontrolan larva. Jenis-jenis wadah tersebut menunjang pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva dengan cakupan lingkungan yang terbatas, sehingga hama atau penyakit sulit mengintervensi. Tujuan difungsikannya atap pada wadah pemeliharaan untuk meminimalisir pengaruh kondisi cuaca yang terjadi seperti hujan dan terik panas matahari. Air hujan dalam kuantitas tinggi dapat menurunkan pH perairan, begitu juga dengan suhu tinggi akibat terik panas matahari yang tidak baik untuk larva lele. Larva lele sangat sensitif dengan fluktuasi kualitas lingkungan, oleh sebab itu pemeliharaan larva pada wadah beratap, semi-indoor, atau indoor sangat dianjurkan.

Cara Agar Larva Lele Cepat Besar
  1. Asal-usul Induk

Produksi larva yang tidak mengindahkan penggunaan induk dapat berakibat buruk bagi larva dan keberlanjutan usaha itu sendiri. Induk jantan dan induk betina ikan lele yang menghasilkan larva dengan pertumbuhan cepat yaitu pemijahan induk yang tidak inbreeding. Inbreeding adalah perkawinan induk ikan yang masih dalam keturunan yang sama. Akibat dari pemijahan satu keturunan antar induk yaitu larva yang abnormal. Abnormalitas pada larva secara sederhana adalah kecacatan secara morfologi dan fisiologi yang menghambat laju pertumbuhan larva dan berpotensi pada kematian. 

  1. Pakan dan Nutrisi

Asupan pakan dan nutrisi mengambil peran utama dalam menggenjot pertumbuhan larva lele. Pemilihan dan pemberian pakan yang kurang tepat dapat menjadi faktor pertumbuhan ikan yang lambat. Larva lele memanfaatkan pakan yang didominasi oleh jenis pakan alami. Pemberian pakan untuk larva lele mengalami transformasi seiring dengan pertumbuhan ikan. Larva lele yang baru menetas mengandung kuning telur di perutnya, kuning telur secara perlahan akan mengempis dan hilang sampai hari ke 3 atau 4. Kuning telur pada perut larva ikan lele yang baru menetas merupakan asupan pakan dan nutrisi alami. Dengan demikian tidak ada pemberian pakan pada larva lele sampai hari ke-4 atau kuning telurnya habis. Memasuki hari ke-5 larva ikan memiliki beberapa opsi jenis pakan meliputi kuning telur ayam rebus, kutu air, artemia, atau cacing sutera (Tubifex sp.) Metode pemberian pakan dapat dilakukan secara ad satiation atau ad libitum mengingat pakan yang diberikan adalam pakan alami. Sebagai contoh larva lele dengan jumlah 50.000 ekor dapat diberi satu butir kuning telur ayam rebus per harinya. Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah dalam frekuensi pemberian pakan. Frekuensi pemberian pakan pada larva ikan yaitu 3-4 kali sehari. Ukuran saluran pencernaan yang pendek membuat cepatnya laju metabolisme larva sehingga larva ikan cenderung lebih cepat lapar. Frekuensi pemberian pakan yang sering dengan kuantitas yang minim merupakan metode yang tepat untuk mendukung pertumbuhan larva. Penambahan probiotik pakan yang mengandung Bacillus sp. dan Lactobacillus sp. layak digunakan sebagai suplemen tambahan disamping penambahan vitamin C pada pakan.

Cara Agar Larva Lele Cepat Besar
  1. Kualitas Air

Kualitas media budidaya menjadi pondasi produktivitas komoditas terlebih pada pemeliharaan larva. Larva merupakan stadia ikan yang paling sensitif pada fluktuasi lingkungan. Kualitas air wajib dievaluasi harian melalui teknis yang efisien. Beberapa parameter kualitas air yang penting untuk diperhatikan yaitu suhu, pH, DO, amonia, dam ketinggian air. Larva memiliki toleransi suhu yang berkisar 25-30℃, untuk menjaga kondisi suhu yang stabil wadah pemeliharaan dapat diatur menggunakan atap atau dalam ruangan tertutup. Penggunaan water heater untuk pemeliharaan ikan juga efektif untuk menjaga kestabilan suhu. Nilai pH air yang baik untuk larva yaitu 6,5-8, nilai pH dapat turun akibat adanya intervensi air hujan yang berlebih atau kandungan karbondioksida dan konsentrasi amonia yang tinggi. Serupa dengan ikan lele dewasa, larva lele harus dipelihara pada media budidaya yang mengandung konsentrasi oksigen minimal 3 mg/L. Amonia yang bersifat toksik pada larva ikan harus berkonsentrasi kurang dari 0,01 mg/L agar mendukung pertumbuhan. Ketinggian air pada wadah pemeliharaan untuk larva memiliki syarat tertentu yaitu berkisar antara 25-40 cm. Ketinggian air yang terlalu rendah dan terlalu tinggi dapat mempengaruhi tingkat stress dan pertumbuhan larva. Perawatan kualitas air dan wadah budidaya larva dilakukan dengan pergantian air sekaligus penyifonan ketika kondisi air sudah rusak (warna keruh dan berbau) menggunakan selang sifon berukuran kecil. 

Sekian informasi yang dapat disampaikan pada artikel kali ini. Semoga informasi ini bermanfaat dan dapat menginspirasi sahabat Sangkuti untuk tetap semangat berbudidaya. Jangan lupa like dan share artikel ini dan artikel lainnya dari Sangkuti Farm. Terimakasih, Happy Farming, dan salam sukses akuakultur!

Baca juga : Pakan Indukan Lele, Bukan Pakan Biasa

Nilai Kualitas Konten

About Aghis

CEK JUGA ARTIKEL INI :

Fitoplankton Makanan Kutu Air

Halo sahabat sangkuti mimin disini mau berbagi pengetahuan baru ternyata fitoplankton makanan kutu air yuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!
Chat Kami
1
Terima kasih 😀🙏🏻

Silahkan diskusikan kepada kami tentang budidaya ikan, kolam terpal dan perlengkapan perikanan budidaya lainnya. Kami siap membantu anda 😊😊

Oh iya, Kami hari ini sedang ada promo pelatihan budidaya online hanya 100ribuan berisi 60 video tutorial. 👍