Wednesday , 21 August 2019

Budidaya lele, Tahapan dan Langkah Untuk Pemula No ratings yet.

Budidaya lele, baik lele dumbo maupun lele sangkuriang, sudah lama diketahui dan dijalankan masyarakat lndonesia. Dibandingkan dengan budidaya ikan air tawar lainnya, atensi masyarakat untuk membudidayakan ikan tidak memiliki sisik ini memang lebih tinggi dan lebih merata di setiap daerah. Lantas, kenapa masyarakat sangat tertarik menginvestasikan uang mereka untuk membudidayakan lele, dibandingkan dengan budi tenaga ikan air tawar lainnya?


Budidaya lele, Tahapan dan Langkah Untuk Pemula

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita dapat mengkaji dari sisi keuntungan yang dapat didapat seseorang dengan membudidayakan lele. Dengan kata lain, melihat Prospek bisnis budidaya lele.

  1. Kelebihan Memilih Usaha Budi Daya Lele

Bukan tanpa alasan seseorang memilih berinvestasi dalam usaha budidaya lele. Rupanya, ada sejumlah keuntungan dan keunggulan yang ditawarkan, seperti Pemaparan berikut ini.

a. Kuat dan tahan Banting

Dalam budidaya lele, Lele termasuk ikan yang tenar ”tahan banting”. Untuk dapat bertahan hidup, lele tidak membutuhkan situasi atau syarat air khusus seperti halnya ikan air tawar lainnya (ikan bersisik). ikan air tawar lain membutuhkan oksigen terlarut dalam air yang cukup, padahal lele tidak terlalu membutuhkannya. Lele malahan dapat menghirup oksigen di udara dengan sistem menyembul ke permukaan air, karena lele mempunyai alat pernapasan tambahan yang disebut labirin atau arborescent. Selain yang tidak mungkin dilaksanakan ikan bersisik.

Kesanggupan lele-seperti disebut di atas, yang buat ikan ini dapat dibudidayakan hampir di setiap daerah dan di sembarang daerah. Di suatu daerah yang minim air, malahan di comberan malahan, kasarannya, lele dapat dibesarkan atau dibudidayakan. Syaratnya, jangan menebar bibit berukuran kecil. Pakai ukuran 9-1 2 cm, atau kalau perlu ukuran di atasnya. Meski demikian, dalam budidaya lele tidak berarti situasi air dapat dipungkiri atau diremehkan seperti itu saja. Untuk mengasah pertumbuhan, produktivitas, dan menjaga kesehatan lele, tentu saja ketersediaan dan pemeliharaan air menjadi hal penting yang semestinya dilaksanakan.

b. Masa Pemeliharaan Lebih Singkat

Dalam budidaya lele, Masa pemeliharaan lele lebih singkat dibandingkan dengan masa pemeliharaan ikan air tawar lainnya, baik di segmen pembenihan maupun pembesaran. Sebagai model, budidaya pembesaran lele yang dilaksanakan secara intensif, cuma membutuhkan waktu sekitar 2-3 bulan untuk menempuh ukuran konsumsi, tergantung padat penebarannya.

Situasi di atas berbeda dengan ikan air tawar lainnya yang membutuhkan waktu pemeliharaan relatif lebih lama. ikan nila misalnya, membutuhkan waktu sekitar 5-6 bulan untuk menempuh ukuran konsumsi. Sementara itu, gurami membutuhkan waktu lebih dari satu tahun untuk panen ukuran konsumsi,

c. Teknik Pemeliharaan Cukup Sederhana

Dibandingkan dengan budidaya ikan bersisik, teknik yang diaplikasikan pada pemeliharaan lele cukup simpel.. Perlengkapan dan bahan yang diaplikasikan malahan terbilang mudah ditemukan di sekitar kita. Melainkan, ada satu hal lebih-lebih dilihat. yaitu aspek ketelatenan.

Dalam hal pergantian air malahan tidak semestinya sesering seperti membudidayakan ikan bersisik. Pada tahap pembesaran, malahan selama 10 hari pertama sejak penebaran, disarankan untuk tidak mengganti air sama sekali. Dalam pembesaran lele tidak membutuhkan sistem air deras seperti yang dilaksanakan pada pembesaran ikan mas.

d. Siklus Keuangan Relatif Lebih Cepat

Masa pembenihan dan pembesaran lele yang relatif singkat membikin perputaran keuangan sangat kencang, Sebab itu, tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menikmati keuntungan secara finansial dari hasil pemeliharaan lele. Apabila mempunyai kolam cukup banyak-dengan perputaran uang yang seperti itu lebih cepat dan dapat dimanfaatkan untuk membiayai operasional kolam lainnya, seperti membeli bibit dan membeli pakan. Selain itu, setiap pekan atau bulan. Caranya, penebaran bibit di kolam dilaksanakan secara bergilir dengan interval waktu yang dipegang berdasarkan agenda panen atau target pasar.

e. Benih Relatif Lebih Murah dan Gampang Didapat

Pada pembesaran lele, salah satu keuntungan lainnya yaitu harga benihnya yang tidak terlalu mahal. Sebagai model, kisaran harga bibit lele ukuran 5-7 cm saat ini sekitar Rp200-Rp300 per ekor. Besaran tersebut yaitu harga rata-rata di sebagian daerah di Indonesia. Ukuran bibit yang sama untuk ikan nila, ikan mas, dan gurami, harganya dapat dua atau tiga kali lipat dari harga bibit lele tersebut. Selain murah, bibit lele relatif mudah didapat, karena hampir di setiap daerah terdapat petani unit pembenihan lele.

Melainkan demikian, harga bibit lele di sebagian daerah dapat lebih murah dari harga rata-rata. Petani di Kampung Lele dapat mendapat bibit dengan harga jauh lebih murah, yaitu Rp80/ekor. Di Tulungagung, Jawa Timur, malahan lebih murah lagi, sekitar Rp75 per ekornya. Tak heran, banyak petani yang mencari atau mengorder bibit dari daerah Tulungagung.

Di daerah Kalimantan yang terjadi malahan sebaliknya. Harga bibit lele di daerah tersebut sangat mahal, menempuh Rp200/ekor. Lebih mahal lagi di daerah Papua, konon dapat menempuh Rp400/ekor. Melainkan, di daerah tersebut harga jual lele ukuran konsumsi menyesuaikan dengan harga bibit. Artinya, harga lele ukuran konsumsi juga tergolong mahal. Dengan demikian, tidak akan mengganggu tingkat perolehan laba petani.

f. Relatif Kuat Kepada Penyakit

Meski yaitu ikan tanpa sisik, lele dipersenjatai dengan lendir yang melapisi kulitnya. Lendir ini bermanfaat untuk melindungi kulit atau tubuh lele, termasuk menangkal serangan penyakit. Sebab itu, hindari perlakuan terhadap lele yang dapat mereduksi atau mengikis lendir di kulit lele. Apabila dalam pemeliharaan lele diaplikasikan prinsip”mencegah lebih bagus daripada mengobati” akan menghindarkan lele dari serangan beraneka penyakit.

g. Permintaan Pasar Stabil

Permintaan lele, bagus bibit maupun konsumsi sangat stabil, malahan terus meningkat. Implikasinya, usaha budi tenaga lele seperti tidak ada matinya. Permintaan lele untuk konsumsi, lebih-lebih diresapi oleh segmen warung tenda atau populer dengan warung pecel lele. Selain itu, supermarket, cafe, dan rumah makan juga membutuhkan pasokan lele konsumsi yang cukup tinggi dan kontinu. Kafe dan hotel membutuhkan lele ukuran konsumsi lazim, baik lele hidup atau lele segar (dalam situasi mati). Supermarket memasok lele ukuran konsumsi. Umumnya, lele segar dengan ukuran 6-1 0 ekor/kg. Selain itu, supermarket minta fillet lele dengan ukuran minimum 500 gram.

2. Prospek Pasar Lele

Budidaya lele, Tahapan dan Langkah Untuk Pemula

Berdasarkan data Biro Pusat Statistik dan Berita, tingkat konsumsi ikan, termasuk lele di Indonesia semakin meningkat. Pada tahun 2004, konsumsi lele cuma terhitung 22,58 kg per kapita per tahun. Tiga tahun kemudian, yaitu pada tahun 2007, meningkat menjadi 38,28 kg per kapita per tahun.

Seiring dengan peningkatan populasi penduduk dunia, keperluan masyarakat terhadap protein hewani dari ikan semakin meningkat. Sayangnya, sejah tahun 1990-an, produksi perikanan tangkap (hasil laut) mengalami penurunan. Selain ini berlanjut hingga sekarang sebagai pengaruh dari kerusakan lingkungan laut dan penangkapan ikan ilegal secara besar-besaran. Satu-satunya keinginan untuk konsisten dapat memenuhi keperluan konsumsi ikan dunia, yaitu dengan usah budidaya ikan.

Lele sebagai salah satu produk ikan hasi budidaya tampaknya akan konsisten menempati urutan teratas dalam jumlah produksi yang diciptakan. Selama ini, lele mendonasi 10% lebih produksi perikanan budi tenaga nasional dengan tingkat pertumbuhan menempuh 17-18%. Selain itu, lele diinginkan menjadi pendongkrak produksi perikanan budidaya dengan target menempuh 38% pada 2010.

Kebutuhan atau permintaan lele di setiap daerah sangat fantastis. Yogyakarta misalnya, meresap lele sekitar 14 ton setiap hari dan 70% keperluan tersebut dipasok dari Boyolali, Jawa Tengah. Kebutuhan pasokan lele untuk wilayah Jabodetabek lebih fantastis lagi, menembus angka 150 ton/hari. lhwal serupa terjadi di sebagian daerah di Indonesia. Kenyataan ini menggambarkan alangkah tingginya tingkat konsumsi masyarakat Indonesia terhadap lele.

Mungkin kita tidak pernah menggubris warung tenda pecel lele yang berjejer di sepanjang jalan. Umumnya, daerah makan seperti inilah yang meresap pasokan lele konsumsi terbanyak. Umumnya, kontinuitas keperluan lele di warung tenda lebih pasti kalau dibandingkan dengan keperluan lele di supermarket. Khusus warung seperti itu banyak tersebar di setiap kota di Indonesia.

Kenyataan tersebut menegaskan bahwa prospek budi tenaga lele sangat potensial dan menjanjikan untuk ditekuni. , saat ini, ada segmen lain dari budi tenaga lele, yaitu adanya diversifikasi pengolahan makanan dari lele, seperti abon, nugget, krupuk lele (bagus kulit maupun daging), dan lele asap. Selain ini berakibat pada semakin tingginya permintaan lele di pasaran.

Facebook Comments
BANNER FREE MEMBER

Nilai Kualitas Konten

CEK JUGA ARTIKEL INI :

Penyakit Virus Pada Ikan Lele

Penyakit Virus Pada Ikan Lele

Channel Catfish Virus Disease (CCVD) merupakan penyakit ikan lele yang disebabkan oleh virus herpes. Penyakit …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!