Bisnis Budidaya Lele : Segmentasi Bisnis dan Penjelasan

Bisnis Budidaya Lele : Segmentasi Bisnis dan Penjelasan.

 

 

Lima tahun terakhir ini, kami mengamati pertumbuhan pesat bisnis lele di Indonesia. Banyak yang telah mendulang uang, namun tak sedikit yang kandas gulung terpal di tengah jalan dan merugi puluhan hiungga ratusan juta rupiah. Banyak kendala dan masalah yang terjadi pada pelaksanaannya. Kali ini kami akan mencoba membahas mengenai Segmentasi Bisnis Budidaya Lele. Mengapa hal ini perlu dipahami?

Bisnis Budidaya Lele

Ada dua alasan yang menjadi jawaban kami:

  1. Anda hanya ingin ‘Memelihara Lele’ saja? Atau ‘Berbudidaya Lele’? atau Anda ingin ‘Bisnis Budidaya Lele’? Karena jika Anda ingin memelihara lele, Anda tidak membutuhkan lahan besar, tidak memikirkan kebutuhan dan standar pasar, dan tentunya tidak perlu memikirkan resiko kematian ribuan ekor lele. Karena memelihara tentunya tak membutuhkan ribuan ekor lele, bukan? LALU, bagaimana dengan budidaya lele? Budidaya lele cenderung hanya menjaga ternak Anda hidup, tingkat kematian rendah, dan bisa memasuki tahap panen saja. Namun ketika Anda ingin menjalani bisnis budidaya lele, Anda perlu memahami lebih banyak, lebih mendalam, dan perlu bekerja keras lebih.
  2. Banyak masalah terjadi salah satunya karena para peternak/petani/pembudidaya memulai TIDAK hanya satu segmen saja. Terlalu terburu-buru, merasa mudah/menggampangkan, dan tidak melakukan pengamatan yang mendalam, adalah alasan kegagalan yang paling umum ditemui.

Kami mencoba mengingat bahwa beberapa tahun lalu pun, kami melakukan hal yang serupa. Merasa bahwa budidaya ini adalah budidaya yang mudah. Hasilnya? Merugi!

Contoh yang paling sering kami temui adalah seperti ini:

Sebut saja namanya A. Beliau seorang karyawan paruh baya, berpenghasilan lumayan, namun ingin membuka usaha budidaya. Mulailah dia mencari informasi di media sosial, hingga mendatangi beberapa pengusaha lele. Merasa sudah cukup, A memutuskan untuk mulai merancang bisnisnya, disinilah resiko kegagalan mulai dipupuk!

Mengapa demikian? A akan berpikir untuk melakukan langsung dua segmen sekaligus. Mau usaha pembesaran, tapi mau juga memelihara indukan, karena berpikir jika mampu mengontrol bibit maka akan menekan biaya sekaligus menambah keuntungan, atau sebaliknya. Ingin memulai membibitkan, namun mau juga membesarkan, agar sekaligus mendapat keuntungan dari dua segmen. Apakah ini salah?

Tidak salah!

Mengawali Bisnis Budidaya Lele

Namun kurang tepat dan hanya memupuk resiko kegalagalan. Curtis Stone dalam bukunya yang berjudul “The Economics of Urban Farming” mengatakan bahwa kegagalan dalam berbudidaya adalah ketika Anda terburu-buru mau melakukan semuanya, berbagai produk, berbagai tahapan, dalam satu waktu bersamaan di awal Anda memulai pertanian Anda.

Pada tahapan awal Anda membangun bisnis budidaya Anda, sebaiknya mulailah dengan kecil, namun pelajarilah dengan mendalam, dan tetap berpikir besar. Anda akan dihadapkan dengan besarnya modal di awal, fluktuasi harga pakan dan harga jual, dan tentunya konsistensi fokus kerja Anda di lahan Anda. Apabila Anda memulai berbagai segmen budidaya lele sekaligus, tentunya Anda akan dihadapkan dengan masalah besarnya biaya, kualitas pengendalian mutu yang rendah, dan resiko kegagalan tinggi.

Banyak yang mengatakan kepada kami, “Ah Pak, jika modal besar dan lahan luas, pasti tidak ada masalah Pak.” Modal besar bukanlah tolak ukur sebuah usaha menjadi kebal resiko kegagalan. Bayangkan Anda memiliki 300 kolam pembesaran dan ketersediaan modal untuk pakan yang besar pula, namun Anda tidak tahu bagaimana cara mengatur kualitas air, bahaya penyakit pada lele, atau menyortir ukuran lele. Jika itu terjadi, apabila ke-300 kolam Anda gagal panen, maka Anda akan membuang bibit lele (isi bibit setiap kolam dikali 300), dan pakan yang telah Anda berikan selama ini, serta biaya operasional pemeliharaan 300 kolam.

Banyak sekali yang Anda bisa mulai cicil dalam mempelajari bisnis budidaya lele. Kami akan coba memberikan contoh topik apa saja yang Anda perlu pelajari:

A. Manajemen Air Kolam Lele

B. Pakan Utama dan Pakan Alternatif Lele

C. Pola Perilaku Lele

D. Penyakit dan Ancaman Budidaya Lele

kolam bisnis budidaya lele

Banyak yang bertanya kepada kami mengenai segmen manakah yang paling menguntungkan, dan mana yang paling beresiko tinggi. Jawabannya adalah; tergantung Anda! Sebelum lebih jauh membacanya, sebaiknya kita ada dalam satu pemahaman utama dalam konsep bisnis atau investasi: High Risks, High Incomeatau Besar Pendapatan, Besar Resikonya. Keuntungan besar akan berjalan berdampingan dengan tingginya resiko yang mengancam Anda. Semakin Anda bisa memahami resiko apa saja yang menghantui, semakin baik pula Anda menjaga bisnis lele Anda untuk tidak terjun bebas ke jurang kegagalan.

Apakah kita sudah dalam kolom pemahaman yang sama???

Yuk simak empat segmen bisnis dalam budidaya lele (produksi lele):

1. INDUKAN LELE.

Segmen ini membutuhkan waktu dan modal pakan yang tak sedikit. Umur indukan lele yang baik adalah minimal 15 bulan dengan berat minimal 700gram per ekornya. Biasanya, para peternak indukan dapat membeli bakal/calon indukan di Balai Benih Ikan dan memeliharanya hingga masa siap pemijahan/peneluran, ataupun siap jual ke Petani Pembibitan. Untuk gambaran skema penjualan, indukan lele umumnya dipasarkan dengan satuan “per paket”, yaitu satu paket berisi 15 ekor indukan dengan rasio 8 betina dan 7 jantan; dengan asumsi harga per paket (tahun 2017) berkisar 700 ribu hingga 1,5 juta rupiah, tergantung tingkat kualitas indukan.

Tingkat kesulitan memelihara indukan lele cenderung mudah karena lele ukuran besar dan cukup umur sudah memiliki daya adaptasi kuat. Segmen ini cocok bagi pemula yang masih bekerja kantoran atau memiliki bisnis non-budidaya lainnya, karena Anda cukup memelihara kestabilan kualitas air saja dan rutin pemberian pakan saja. Segmen ini cocok bagi pembudidaya yang memiliki lahan yang tak telalu besar di rumah. Sebagai gambaran, untuk 2 paket indukan atau 30 ekor indukan lele, kami hanya memeliharanya di kolam indukan yang berukuran kurang lebih 12 meter persegi saja.

Kesulitan dalam segmen ini adalah petani harus memiliki modal usaha yang sifat pengembaliannya jangka panjang. Pembudidaya indukan lele harus siap dengan sejumlah modal usaha untuk biaya pemeliharaan dan pakan lele setidaknya minimal 6-8 bulan. Modal pakan Anda baru bisa kembali setelah Anda bisa memanennya, sedangkan panen hanya bisa dilakukan setelah indukan lele memiliki bobot yang cukup, gonad yang siap, dan umur yang matang. Penghitungan antara modal pakan dan harga jual yang tepat, akan membantu Anda menikmati keuntungan di masa panen.

2. PEMBIBITAN atau dikenal juga dengan nama PEMIJAHAN adalah segmen kedua setelah seorang petani lele mampu menangani Segmen Indukan Lele dengan baik. Segmen ini memerlukan lahan yang tidak sedikit, karena harus ada kolam indukan, kolam pemijahan, dan kolam bibit. Kami menyarankan agar Anda setidaknya memiliki lahan yang sanggup menampung minimal 15 kolam berukuran 3×4 meter per kolamnya. Melihat sisi produksi pembibitan, dalam satu kali proses pemijahan, satu paket indukan berkualitas (15 ekor) dapat menghasilkan setidaknya 80.000-100.000 ekor. Telur hasil pemijahan nantinya akan dipindahkan ke kolam pembesaran bibit. Proses sortasi yang baik, manajemen air dan pakan, dan menekan tingkat kematian bibit sangat penting dalam segmen ini.

Untuk skema penjualan, segmen ini memasarkan panen dengan satuan “per ekor”. Umumnya penjualan bibit sudah bisa dimulai dari ukuran 2-3cm, 3-4cm, 5-6cm, 7-8cm, dan 9-10cm. Penjualan bibit lele umumnya dihitung per seribu ekor. Panenan akan dikemas dalam kantung plastik ataupun tong bibit lele. Sebagai gambaran keuntungan, harga bibit lele ukuran 5-6 (tahun 2017), berkisar di harga 150-200 rupiah per ekornya. Apabila Anda sukses memelihara bibit dalam sekali pijah, maka kalikan saja 80.000-100.000 ekor dengan harga jualnya, dan sebesar itulah keuntungan kotor yang Anda akan dapatkan.

Segmen ini sebaiknya dilakukan setelah memiliki fokus waktu untuk budidaya lele saja, karena memerlukan pengawasan yang teliti, teratur dan mendalam. Tingkat kesulitan segmen ini pun cukup tinggi, karena proses tahapan yang cukup banyak; bibit lele cukup rentan terhadap perubahan suhu & tingkat pH; dan ancaman penyakit. Resiko kegagalan pijah dan kegagalan dalam mencapai ukuran tertentu adalah kesulitan dalam segmen ini.

3. PENDEDERAN ini muncul karena permintaan akan bibit lele yang cukup tinggi. Segmen ini sebenarnya adalah campuran dari segmen pembibitan dan pembesaran. Pola segmen ini adalah petani membeli bibit ukuran kecil (umumnya ukuran 3-4 atau 5-6cm) untuk dibesarkan ke ukuran bibit yang lebih besar (7-8 hingga 9-10cm), untuk kemudian dijual lagi ke petani pembesaran. Segmen ini bisa dilakukan di lahan dengan luasan menengah/tidak terlalu luas/atau lebih kecil dari Segmen Pembibitan.

Petani di segmen ini biasanya telah memiliki pemahaman yang mendalam tentang bagaimana melihat bibit yang baik dan bagaimana memperlakukan bibit. Kolam yang dibutuhkan adalah kolam sortasi berdasarkan ukuran. Umumnya jumlahnya genap, untuk memudahkan proses pengumpulan dan sortasi. Kemampuan menguasai proses sortasi baik dan pemilihan bibit unggul sangatlah penting. Skema penjualan yang diterapkan yakni satuan “per ekor”, sama dengan Segmen Pembibitan.

Networking/jaringan relasi dengan para pembibit dan pembesar sangat diperlukan dalam bisnis ini, mengingat segmen ini termasuk segmen “tengah” dalam alur perdagangan lele. Bagi Anda yang senang untuk “jalan-jalan’ mencari pembibit dan pembesar di sekeliling wilayah kolam Anda, segmen ini bisa Anda lakukan, tentunya dengan memikirkan resiko pengangkutan bibit lele tersebut.

4. Segmen terakhir adalah segmen PEMBESARAN. Segmen ini adalah ujungnya atau bagian hilir dari bisnis budidaya lele yang bersentuhan langsung dengan pembeli/pengguna. Segmen ini boleh dikatakan cukup mudah dan tidak terlalu membutuhkan luasan kolam yang besar. Namun, tetap saja Anda perlu mengetahui apa saja yang Anda perlu pelajari untuk menekan tingkat kematian lele.

Segmen ini membeli bibit dari para pembibit atau pendeder, untuk kemudian memeliharanya hingga ukuran siap konsumsi atau ukuran yang pasar inginkan. Ukuran yang diinginkan bisanya memberlakukan satuan “per kilo”. Umumnya pasar meminta ukuran mulai dari ukuran 12 ekor per kilonya, hingga ukuran tujuh ekor per kilo lele. Melirik harga pasar lele (tahun 2017), umumnya lele konsumsi ada di harga 14.000 hingga 18.000 per kilo dengan isi 10 ekor. Namun, ada titik lemah dalam segmen ini, yaitu harga jual lele konsumsi selalu naik-turun dan berbeda-beda setiap daerahnya.

Banyak orang mengatakan hal ini karena ulah para tengkulak yang curang. Namun, apabila kita selalu menyalahkan kondisi yang ada, maka kita akan susah mencapai keuntungan yang diharapkan. Saran kami adalah membina hubungan baik dengan para pembeli ukuran konsumsi, mencari lebih dari satu “lubang” pemasaran, dan memiliki akses penjualan ke pengusaha/produsen makanan olahan adalah beberapa cara yang Anda dapat lakukan. Lele yang ukurannya sudah tidak masuk standar konsumsi pasar/terlalu besar (apkir), bisa dijual ke petani Indukan Lele atau produsen produk olahan lele.

Demikian empat segmentasi dalam bisnis budidaya lele, apabila dilihat dari sisi produksi dan sisi non-olahan.

Kami menyarankan untuk memulai SATU segmen di awal pembangunan budidaya. Mulailah membangun dan menjalaninya, sambil Anda mencatat dan mempelajari semua detail yang ada, seperti karakter air dan cuaca di daerah Anda, ataupun harga jual lele secara berkala. Jangan lupa juga untuk mencari pengetahuan atau informasi lain mengenai lele, baik melalui media sosial, jurnal ilmiah ataupun buku-buku panduan berbudidaya lele.

Ada baiknya juga Anda secara teratur mendatangi dan mengamati kolam pembudidaya lele yang lain. Anda akan menemui banyak inspirasi atau terobosan baru dan mungkin saja solusi masalah kolam lele Anda. Tetapi, hati-hati juga dalam menerapkan solusi kolam lain ke kolam Anda, bisa saja mereka berhasil, namun di kolam Anda tidak. Hal ini sering terjadi karena karakteristik setiap kolam berbeda-beda, tak hanya faktor alam yang berbeda, namun juga karakter cara penanganan kolam.

Bagaimana dengan pertanyaan kemana arah pengembangan bisnis budidaya lele Anda nantinya? Apakah hanya segitu-segitu saja dan tidak berkembang?

Setelah Anda sukses memulai satu segmen, pastikan Anda telah melewati minimal 3 siklus panen. Mengapa? Setelah tiga kali siklus panen, berarti setidaknya Anda telah memiliki kapasitas menangani kolam budidaya lele Anda di kondisi musim yang berbeda.

Setelah Anda teruji dan memahami segmen Anda dengan mahir serta mendalam, Anda bisa mencoba memperbesar/memperbanyak luasan kolam, atau menambah satu segmen baru.

Kemudian, ketika segmen baru tersebut Anda mulai, mulailah dengan metode yang sama ketika Anda membangun pertama kali, tentunya dengan tidak mengulangi kesalahaan-kesalahan yang sudah pernah terjadi, dan selalu ingat untuk: Memulainya dengan Ukuran/Skala Kecil Dahulu!

Sebagai tambahan, kami juga menyarankan Anda untuk menyisihkan sebagian uang hasil keuntungan kotor/bruto Anda sebagai dana darurat untuk meminimalisir resiko kegagalan panen.

Penjelasannya akan kami contohkan dalam cerita singkat berikut:

“B memulai usaha lele sebanyak 1000 ekor, segmen pembesaran (dengan asumsi tak perlu membangun kolam lagi). Bibit yang dibeli seharga total 300.000 rupiah. Kalkulasi pakan sekitar 100 kilo pakan dengan total 700.000. Panen pertama, B memanen 100 kilo lele dengan hasil penjualan sebesar 1.600.000. Maka keuntungannya sebesar 600.000 (1.600.000-300.000-700.000).”

Cerita di atas akan kami sedikit modifikasi lagi menjadi:

“B memulai usaha lele sebanyak 1000 ekor, segmen pembesaran (dengan asumsi tak perlu membangun kolam lagi). Bibit yang dibeli seharga total 300.000 rupiah. Kalkulasi pakan sekitar 100 kilo pakan dengan total 700.000. Panen pertama, B memanen 110 kilo lele dengan hasil penjualan sebesar 1.760.000. Maka keuntungannya sebesar 760.000 (1.760.000-300.000-700.000).

Tanpa menyisihkan uang hasil keuntungan untuk penanggulangan resiko, B mengulangi hal yang sama, namun kali ini panen gagal di satu minggu terakhir sebelum pembeli datang, dan lele hanya terjual 20kg saja, maka bisa dipastikan, B tidak akan mampu melanjutkan usaha, karena tidak ada dana yang disisihkan sebelumnya untuk membeli bibit yang baru dan pakan”

Cerita seperti ini, mungkin terlihat mengada-ada, tapi ini adalah kisah nyata dan sering terjadi dalam usaha pertanian/pembudidaya/perikanan. Untuk itu, sebaiknya Anda menyisihkan setidaknya 17-25% dari keuntungan bruto Anda, untuk menjaga-jaga apabila sewaktu-waktu terjadi kegagalan panen, Anda masih memiliki dana darurat untuk modal memulai kembali sambil terus berharap, berusaha dan berdoa agar siklus berikutnya akan lebih baik.

Sebagai bagian penutup tulisan ini, kami akan mengulangi saran: “Mulailah dengan satu segmen bisnis budidaya lele dahulu, jangan terlalu besar, namun pelajari dengan cermat…”

 

Nahhh, segmen mana yang teman-teman mau pilih sebagai awal bisnis budidaya lele???

Facebook Comments
BANNER FREE MEMBER

CEK JUGA ARTIKEL INI :

Perkembangan Budidaya Ikan Lele di Indonesia

Perkembangan Budidaya Ikan Lele di Indonesia

Perkembangan Budidaya Ikan Lele di Indonesia Perkembangan Budidaya Ikan Lele di Indonesia Permintaan lele konsumsi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!