Balai Benih Ikan: Salah Satu Peran Pemerintah dalam Mengembangkan Budidaya Ikan Air Tawar

Apa itu Balai Benih Ikan?

 

Dalam rangka peningkatan produksi perikanan air tawar, penyediaan benih ikan yang cukup merupakan salah satu faktor yang menetukan bagi keberhasilan bidang perikanan budidaya. Balai benih ikan (BBI) adalah sarana pemerintah untuk menghasilkan benih ikan dan untuk membina usaha pembenihan ikan rakyat yang tersebar di seluruh Indonesia. Ada BBI yang dikelola oleh pemerintah daerah tingkat I yaitu BBI sentral, dan ada yang dikelola oleh pemerintah daerah tingkat II yaitu BBI lokal. Oleh karena itu, peningkatan potensi BBI mempunyai kedudukan yang strategis dalam pengembangan budidaya perikanan air tawar umumnya.

Simak video mengenai profil Balai Benih Ikan berikut ini:

Keadaan lingkungan dan tingkat kemajuan budidaya ikan serta pengelolaan perairan umum (danau, waduk, rawa, sungai dsb) di setiap daerah seluruh Indonesia tidak selalu sama. Tuntutan terhadap BBI di setiap daerah juga berbeda, oleh karena itu pengoperasionalan BBI dapat disesuaikan tanpa merubah prinsip yang telah digariskan. Efektivitas dan efesiensi BBI sebagai unit pelaksana teknis (UPT) daerah akan dapat tercapai bilamana ada keseimbangan  antara tuntutan kebutuhan benih di daerah setempat dengan fasilitas yang disediakan, tenaga pelaksana organisasi, dan pengelolaannya.

Persyaratan Pembangunan BBI

1)      Kriteria Teknik

  1. a)Ketinggian dan kemiringan tempat

Ketinggian tempat < 700 m dpl, dan kemiringan tanah berkisar antara 3-5%.

  1. b)Tanah

Tanah dengan struktur yang kuat, dapat menahan air (tidak porous), subur, dan tidak berbatu-batu.

  1. c)Sifat fisika dan kimia air

Sifat fisika meliputi : Suhu 25-300C, kekeruhan 25-100 JTU, muatan suspensi 250-100, kecerahan >10% penetrasi cahaya yang sampai ke dasar perairan.

Sifat kimia meliputi : pH 4-9, kandungan O2 >2 ppm, kandungan CO2 <25 ppm, kandungan NH3 <1.5 ppm, dsb.

  1. d)Sumber air

Mata air, sumur artesis, dan sumur bor. Untuk air yang bersumber dari sungai perlu dilengkapi bak pengendapan dan filter, dengan debit air berkisar 10-15 liter/ detik.

2)      Kriteria Sosial Ekonomi

  1. a)Daerah pengembangan budidaya ikan
  2. b)Persyaratan jenis ikan budidaya, mempunyai keunggulan tertentu dan spesifik lokasi
  3. c)Pemasaran terjamin
  4. d)Sarana yang mendukung untuk pengangkutan sapras dan hasil produksi BBI
  5. e)Lokasi BBI bukan merupakan lokasi perkembangan kota dan industri

Standar Unit BBI

BBI dibedakan menjadi 2 unit, BBI lokal dengan luas 2 Ha dan BBI sentral dengan luas 5 Ha, masing-masing BBI mempunyai tugas yang berbeda ;

1)      Tugas BBI lokal

  1. a)Menerapkan dan menyebarluaskan teknologi pembenihan ikan
  2. b)Menyediaan dan menyaluran benih ikan yang bermutu

2)      Tugas BBI sentral

  1. a)Menerapkan meode lapangan dari hasil penelitian teknologi pembenihan baru yang baik untuk budidaya
  2. b)Menyebarluaskan teknologi pembenihan ikan yang lebih menguntungkan
  3. c)Menyediakan dan menyebarkan jenis ikan yang baik untuk budidaya dari ukuran benih sampai induk
  4. d)Menyediakan dan menyalurkan benih ikan yang bermutu secara kontinyu.

 

Standar Perkolamanan

Meliputi ketersediaan prasarana berupa kolam induk, kolam pemijahan, kolam pendederan, kolam donor, dan kolam calon induk.

 

Standar Bak Pembenihan

Meliputi ketersediaan prasarana berupa bak pemijahan, bak penetasan, bak sortasi benih, bak pengobatan (treatment), dan bak pemberokan (penampungan).

Standar Organisasi

Pada prinsipnya BBI lokal dan sentral terdiri dari Kepala BBI yang dibantu oleh urusan/ Sub-seksi produksi, distribusi, sarana & prasarana, tata usaha, teknisi, dan supir.

Untuk memperlancar pengelolaan BBI, perlu diadakan catatan/ dokumentasi BBI yang memadai, seperti buku produksi, buku inventaris barang, buku agenda surat, buku keuangan, buku tamu dan lain-lain yang dianggap berguna. Pencatatan seperti ini penting untuk pengelolaan BBI sebagai bahan laporan, evaluasi, dan penyusunan perencanaan kerja berikutnya.

Sumber Buku Pembenihan Ikan Air Tawar (Dedy Heryadi Sutisna &Ratno Sutarmanto)  

 

Penerbit Kanisius, 1995

Facebook Comments
BANNER FREE MEMBER

CEK JUGA ARTIKEL INI :

Rahasia Sukses!!! Budidaya Lele Sistem bioflok

  Budidaya lele identik dengan bau yang tidak sedap. Bau ini timbul akibat kotoran-kotoran dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!